Media seluruh dunia digegerkan dengan Tsunami setinggi 1 meter setelah gempa 7,3 SR di pantai timur jepang.Gempa ini menimbulkan peringatan tsunami lokal.
Warga pun diimbau untuk segera pergi ke tempat-tempat yang lebih tinggi. Warga Jepang di kota Minamisanriku di prefektur Miyagi misalnya, diserukan untuk pergi ke tempat-tempat yang lebih tinggi.
Presenter stasiun televisi Jepang, NHK berulang kali mengimbau para pemirsa untuk pergi ke tempat yang aman. "Ingat gempa dan tsunami tahun lalu!" seru presenter tersebut seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (7/12/2012).
�"Hubungi tetangga-tetangga Anda dan pergilah ke tempat yang lebih tinggi sekarang!"
Sejauh ini belum ada laporan mengenai korban maupun kerusakan akibat gempa ini. Namun getaran gempa ini dirasakan sangat kuat dan menyebabkan gedung-gedung di Tokyo bergoyang keras.
Media Jepang, NHK memberitakan seperti dilansir AFP, Jumat (7/12/2012), gempa ini menimbulkan peringatan tsunam lokal. Menurut badan meteorologi Jepang, tsunami diperkirakan akan melanda sekitar pukul 17.40 waktu setempat.
Menurut NHK, Badan Meteorologi Jepang telah mengeluarkan peringatan tsunami untuk wilayah prefektur Iwate, Fukushima, Aomori dan Ibaraki.
Dikabarkan, tsunami setinggi satu meter juga bisa melanda wilayah pantai di prefektur Miyagi. Wilayah ini rusak parah akibat diterjang tsunami dahsyat pada Maret 2011 lalu yang menewaskan ribuan orang.
Jumat, 07 Desember 2012
Kamis, 06 Desember 2012
1883
Ada yang tau namanya kiamat? Ada yang tau datangnya kiamat? Kita semua Tidak tau datangnya kiamat. tapi, taukah anda jika Tahun 1883 Bumi Hampir Kiamat?
Isu kiamat yang bakal terjadi pada 21 Desember 2012 masih dipertanyakan kebenarannya hingga kini. Meski begitu, melalui sebuah laporan menyatakan bahwa kehidupan di Bumi nyaris tamat pada 1883.
Menurut Walter Meade Russel melalui blog Via Meadia yang dipublikasikan American Interest,Selasa (27/11/2012), menyatakan bahwa Bumi nyaris kiamat pada 1883. Hal ini disimpulkan berdasarkan sejumlah data astronomi lama yang menyatakan bahwa sebuah komet hancur lebur menjadi 3275 bagian di dekat Bumi. Di mana masing-masing bagian memiliki ukuran seperti komet yang menubruk Bumi pada 30 Juni 1908 (Peristiwa Tuguska).
Peristiwa Tuguska sendiri merupakan ledakan besar yang terjadi di Krai Krasnoyarsk, Rusia sekitar pukul 7.14 pagi waktu setempat. Hingga kini, penyebab peristiwa itu masih diperdebatkan, namun peristiwa ini diduga akibat ledakan udara meteroid atau komet besar.
Melalui blog tersebut menjelaskan, apabila benda-benda tersebut menubruk Bumi, dampak yang dihasilkan setara dengan pertukaran termonuklir yang kemungkinkan dapat menghacurkan kehidupan di planet ini.
Menelisik ke belakang, pada 12 dan 13 Agustus 1883, seorang astronomi dari observatorium di Zacatecas di Mexico membuat pengamatan yang luar biasa. Jose Bonilla mengitung 450 objek masing-masing dikelilingi semacam kabut melewati permukaan Matahari.
Bonilla mempublikasikan hasil pengamatannya ini melalui jurnal berbahasa Prancis, La'Astonomic pada 1886. Ia sendiri dalam laporannya tidak mampu menghitung banyaknya objek. Bahkan, editor jurnal tersebut menyarankan sejumlah pihak untuk tidak mempercayai hasil observasi Bonilla. Ia mengatakan bahwa objek tersebut disebabkan oleh burung, serangga atau debu yang lewat di depan teleskop yang digunakan oleh Bonilla.
Sementara itu, Hector Manterola dari National Autonomous University of Mexico di Mexico City dan rekannya memberikan interpretasi yang berbeda. Mereka berfikir bahwa Bonilla pasti telah melihat fragmen dari sebuah komet yang baru saja terputus. Hal ini menjelaskan gambaran yang berkabut dari potongan-potongan dan objek tersebut terlihat berdekatan.
Setiap fragmen setidaknya memiliki ukuran yang sama dengan komet yang jatuh pada Peritiwa Tuguska. "Jadi, bila objek tersebut bertabrakan dengan Bumi kita akan melihat 3275 Peristiwa Tuguskan dalam dua hari, mungkin sebuah peristiwa kepunahan," katanya menyimpulkan.
Isu kiamat yang bakal terjadi pada 21 Desember 2012 masih dipertanyakan kebenarannya hingga kini. Meski begitu, melalui sebuah laporan menyatakan bahwa kehidupan di Bumi nyaris tamat pada 1883.
Menurut Walter Meade Russel melalui blog Via Meadia yang dipublikasikan American Interest,Selasa (27/11/2012), menyatakan bahwa Bumi nyaris kiamat pada 1883. Hal ini disimpulkan berdasarkan sejumlah data astronomi lama yang menyatakan bahwa sebuah komet hancur lebur menjadi 3275 bagian di dekat Bumi. Di mana masing-masing bagian memiliki ukuran seperti komet yang menubruk Bumi pada 30 Juni 1908 (Peristiwa Tuguska).
Peristiwa Tuguska sendiri merupakan ledakan besar yang terjadi di Krai Krasnoyarsk, Rusia sekitar pukul 7.14 pagi waktu setempat. Hingga kini, penyebab peristiwa itu masih diperdebatkan, namun peristiwa ini diduga akibat ledakan udara meteroid atau komet besar.
Melalui blog tersebut menjelaskan, apabila benda-benda tersebut menubruk Bumi, dampak yang dihasilkan setara dengan pertukaran termonuklir yang kemungkinkan dapat menghacurkan kehidupan di planet ini.
Menelisik ke belakang, pada 12 dan 13 Agustus 1883, seorang astronomi dari observatorium di Zacatecas di Mexico membuat pengamatan yang luar biasa. Jose Bonilla mengitung 450 objek masing-masing dikelilingi semacam kabut melewati permukaan Matahari.
Bonilla mempublikasikan hasil pengamatannya ini melalui jurnal berbahasa Prancis, La'Astonomic pada 1886. Ia sendiri dalam laporannya tidak mampu menghitung banyaknya objek. Bahkan, editor jurnal tersebut menyarankan sejumlah pihak untuk tidak mempercayai hasil observasi Bonilla. Ia mengatakan bahwa objek tersebut disebabkan oleh burung, serangga atau debu yang lewat di depan teleskop yang digunakan oleh Bonilla.
Sementara itu, Hector Manterola dari National Autonomous University of Mexico di Mexico City dan rekannya memberikan interpretasi yang berbeda. Mereka berfikir bahwa Bonilla pasti telah melihat fragmen dari sebuah komet yang baru saja terputus. Hal ini menjelaskan gambaran yang berkabut dari potongan-potongan dan objek tersebut terlihat berdekatan.
Setiap fragmen setidaknya memiliki ukuran yang sama dengan komet yang jatuh pada Peritiwa Tuguska. "Jadi, bila objek tersebut bertabrakan dengan Bumi kita akan melihat 3275 Peristiwa Tuguskan dalam dua hari, mungkin sebuah peristiwa kepunahan," katanya menyimpulkan.
Rabu, 05 Desember 2012
17
Mengapa Soekarno Memilih Tanggal 17 Untuk Proklamasi ?
Tanggal 17 Agustus 1945 merupakan waktu yang sakral bagi
bangsa Indonesia. Pada waktu tersebut, Presiden pertama RI, Soekarno dengan
wakilnya Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia yang sekaligus
menjadi tonggak baru perjalanan bangsa yang terdiri dari bermacam suku ini.
Berbekal secarik kertas yang berisi tulisan tangan naskah
proklamasi, Bung Karno dengan didampingi Moch Hatta, mengumandangkan proklamasi
tanda lepasnya bangsa Indonesia dari penjajahan bangsa asing.
Namun, pemilihan tanggal 17 Agustus sebagai waktu
dibacakannya proklamasi bukanlah tanpa alasan. Dalam buku Samudera Merah Putih
19 September 1945, Jilid 1 (1984) karya Lasmidjah Hardi, diceritakan alasan
Presiden Soekarno memilih tanggal 17 Agustus sebagai waktu proklamasi kemerdekaan
salah satunya adalah karena Bung Karno mempercayai mistik. Alasan itu
disampaikan Bung Karno saat berdiskusi dengan para pemuda, salah satunya adalah
Sukarni, pada 16 Agustus 1945. Saat itu Bung Karno dan Bung Hatta 'diculik'
oleh kaum pemuda ke sebuah tempat di Rengasdengklok, Karawang.
'Penculikan' itu dilakukan untuk menekan kedua proklamator
itu agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa ada embel - embel
Jepang.
"Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi
adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan
ini untuk dijalankan tanggal 17," kata Bung Karno. Mendengar pernyataan
Bung Karno, Sukarni lantas bertanya. "Mengapa justru diambil tanggal 17,
mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16?" tanya Sukarni.
Bung Karno lantas menjelaskan alasannya memilih tanggal 17
sebagai waktu memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
"Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak
dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi
harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah
saat yang baik."
"Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang
berada dalam bulan suci Ramadan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat
yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat
legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci."

"Alquran diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang
17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia,"
kata Soekarno seperti ditulis Lasmidjah Hardi. Kemudian pada sore harinya, Bung
Karno dan Bung Hatta dijemput kembali menuju Jakarta, setelah tercapainya
kesepakatan antara golongan muda dan tua. Saat itu, salah seorang perwakilan
golongan tua, Ahmad Soebardjo memberikan jaminan kepada, proklamasi kemerdekaan
Indonesia akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945, selambat - lambatnya pukul
12.00 WIB. Bung Karno dan Bung Hatta akhirnya kembali ke Jakarta. Singkat
cerita, setelah melewati sejumlah proses dan peristiwa, kumandang proklamasi akhirnya
diproklamirkan Bung Karno di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta,
pada pukul 10.00 WIB.
Minggu, 02 Desember 2012
Militer USA
Ada yang tau keganasan militer USA? Persenjataan militer
USA? Tentang semua itu, mungkin kalian sudah tau. Tapi, kalian tau kalau
militer USA pernah berniat Mengebom Bulan? Hah? Bulan? Ya.
Perang Dingin antara
dunia barat pimpinan Amerika Serikat dan dunia komunis pimpinan Uni Soviet
sejak 1947 menciptakan suasana tegang dan saling ujuk gigi di kedua kubu.
Rupanya persaingan kedua kubu ini sampai menyeret-nyeret Bulan, satelit Bumi.
Petinggi militer Amerika diduga merancang proyek rahasia
bernama 'A Study of Lunar Research Flights' atau 'Project A119.' Harapan
Amerika, Uni Soviet akan terintimidasi
saat melihat kilatan nuklir dari Bumi, seperti dikutip dari laman The
Telegraph.
Hal ini terungkap setelah seorang ahli yang ikut dalam
proyek tersebut, Leonard Reiffel, buka mulut. Menurut fisikawan itu, proyek
A119 diharapkan meningkatkan moral Amerika setelah Uni Soviet sukses
meluncurkan Sputnik tahun 1957.
Semula, dikutip dari laman The Sun, Amerika Serikat ingin
menggunakan bom atom karena bom hidrogen dinilai terlalu berat. Perencanaan dan
perhitungan proyek ini juga melibatkan astronom Carl Sagan, saat dia baru saja
lulus.
Namun, pejabat militer akhirnya mengesampingkan ide ini,
yang akan dilakukan 1959, karena khawatir berefek buruk ke Bumi jika ledakannya
gagal.
Dokumen proyek ini menjadi rahasia selama 45 tahun dan
pemerintah Amerika Serikat tidak pernah secara resmi mengonfirmasi
keterlibatannya dalam penelitian tersebut.
Alih-alih meledakkan bulan, Amerika Serikat pada akhirnya
keluar sebagai pemenang dalam Perang Antariksa melawan Uni Soviet saat Neil
Armstrong menjadi manusia pertama yang berjalan di bulan pada bulan Juli 1969.
Mirny Diamond Mine
Ada yang tau lubang Mirny Diamond Mine - Russia? Jika kalian tau, pasti kalian bingung apa yang menyebabkan lubang yang sedalam 525 meter dan berdiameter 1.200 meter ini, helikopter dilarang melintas di bawahnya karena akan tersedot ke bawah. Benar? Menurut para peniliti, mereka pernah melakukan penilitian ditempat itu. mereka mendekatkan microphone untuk mendengar lempeng" pergeseran bumi. Tapi, yang mereka dengar bukanlah lempeng" pergeseran bumi. Melainkan suara jeritan manusia yang terdengar seperti disiksa. Jeritan manusia? Yang disiksa? Entahlah itu. Konon, suara jeritan itu berada di perut bumi. Meskipun 1 suara dapat dibedakan dengan suara lainnya, tetapi terdengar jutaan suara sebagai latar belakang suara yang satu. Akibat terdengarnya jeritan seperti orang sedang menderita tersebut, hampir separuh dari ilmuwan berhenti meneliti Mirny Diamond Mine ini karena ketakutan.
Mistery Atlantis
Ada yang tau Atlantis? Ya, betul. Kota yang sangat indah itu hilang karena terkena Musibah yang besar. Karena besarnya Musibah itu, hilanglah kota yang indah itu. Tapi, taukah kalian. Kalau Atlantis itu adalah INDONESIA?
Legenda yang berkisah tentang “Atlantis”, pertama kali ditemui dalam karangan filsafat Yunani kuno: Dua buah catatan dialog Plato (427-347 SM) yakni: buku Critias dan Timaeus.
Beberapa hipotesis merupakan hipotesis arkeologi atau ilmiah, sementara lainnya berdasarkan fisika atau lainnya. Banyak tempat usulan yang memiliki kemiripan karakteristik dengan kisah Atlantis (air, bencana besar, periode waktu yang relevan), tetapi tidak ada yang berhasil dibuktikan sebagai kisah sejarah Atlantis yang sesungguhnya.
Kebanyakan lokasi yang diusulkan berada atau di sekitar Laut Tengah atau disekitar Laut Hitam. Beberapa hipotesis yang lain menyatakan Atlantis berada pada pulau yang telah tenggelam di Eropa Utara,atau di Laut Utara. Beberapa telah mengusulkan Al-Andalus atau Irlandia sebagai lokasi. Kepulauan Canary juga dinyatakan sebagai lokasi yang mungkin, sebelah barat selat Gibraltar tetapi dekat dengan Laut Tengah. Berbagai kepulauan di Atlantik juga dinyatakan sebagai lokasi yang mungkin, terutama Kepulauan Azores. Pulau Spartel yang telah tenggelam di selat Gibraltar juga telah diusulkan.
Hingga pada akhir th 2005, Prof. Arysio Santos yang menerbitkan buku yang menggemparkan : “Atlantis the Lost Continents Finally Found”.
Didalam buku tersebut, secara tegas dinyatakannya bahwa lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11.600 tahun yang lalu itu adalah di Indonesia. Beliau menunjukkan perbandingan yang menunjukkan Indonesia adalah lokasi Atlantis yang hilang dibandingkan lokasi-lokasi perkiraan sebelumnya.
Dalam buku ini beliau membandingkan berdasarkan : Sistem irigasi, Keberadaan mammoth/gajah, Ukuran benua, Iklim Tropis, Keberadaan Kelapa dan Nanas, Konstruksi Megalitikum, Kekayaan tambang dan lain-lain (http://atlan.org/articles/checklist)
Ilmu yang digunakan Santos dalam menelusur lokasi Atlantis ini adalah ilmu Geologi, Astronomi, Paleontologi, Archeologi, Linguistik, Ethnologi, dan Comparative Mythology.
Plato bercerita bahwa Atlantis adalah sebuah negara makmur dengan emas, batuan mulia, dan ‘mother of all civilazation’ dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga.
Warga Atlantis yang semula merupakan orang-orang terhormat dan kaya, kemudian berubah menjadi ambisius. Para dewa kemudian menghukum mereka dengan mendatangkan banjir, letusan gunung berapi, dan gempa bumi yang sedemikian dahsyatnya sehingga menenggelamkan seluruh benua itu. Kisah-kisah sejenis atau mirip kisah Atlantis ini yang berakhir dengan bencana banjir dan gempa bumi, ternyata juga ditemui dalam kisah-kisah sakral tradisional di berbagai bagian dunia, yang diceritakan dalam bahasa setempat.
Menurut Santos, ukuran waktu yang diberikan Plato 11.600 tahun SM, secara tepat bersamaan dengan berakhirnya Zaman Es Pleistocene, yang juga menimbulkan bencana banjir dan gempa yang sangat hebat. Bencana ini menyebabkan punahnya 70% dari species mamalia yang hidup saat itu, termasuk kemungkinan juga dua species manusia : Neandertal dan Cro-Magnon.
Sebelum terjadinya bencana banjir itu, pulau Sumatera, pulau Jawa, Kalimantan dan Nusa Tenggara masih menyatu dengan semenanjung Malaysia dan benua Asia .
Sulawesi, Maluku dan Irian masih menyatu dengan benua Australia dan terpisah dengan Sumatera dan lain-lain itu. Kedua kelompok pulau ini dipisahkan oleh sebuah selat yang mengikuti garis ‘Wallace’.
Posisi Indonesia terletak pada 3 lempeng tektonis yang saling menekan, yang menimbulkan sederetan gunung berapi mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan terus ke Utara sampai ke Filipina yang merupakan bagian dari ‘Ring of Fire’. Hingga terjadinya letusan gunung berapi secara berurutan, yang menyebabkan melelehnya lapisan es dan menimbulkan gempa dan tsunami yang menenggelamkan dataran rendah.
Benarkah hypothesis itu?? Dengan kecanggihan teknologi saat ini, yang memungkinkan pencarian di kedalaman laut, kebenaran seluruh hypothesis yang pernah ada tentang Atlantis mungkin akan segera terungkap..
Legenda yang berkisah tentang “Atlantis”, pertama kali ditemui dalam karangan filsafat Yunani kuno: Dua buah catatan dialog Plato (427-347 SM) yakni: buku Critias dan Timaeus.
Beberapa hipotesis merupakan hipotesis arkeologi atau ilmiah, sementara lainnya berdasarkan fisika atau lainnya. Banyak tempat usulan yang memiliki kemiripan karakteristik dengan kisah Atlantis (air, bencana besar, periode waktu yang relevan), tetapi tidak ada yang berhasil dibuktikan sebagai kisah sejarah Atlantis yang sesungguhnya.
Kebanyakan lokasi yang diusulkan berada atau di sekitar Laut Tengah atau disekitar Laut Hitam. Beberapa hipotesis yang lain menyatakan Atlantis berada pada pulau yang telah tenggelam di Eropa Utara,atau di Laut Utara. Beberapa telah mengusulkan Al-Andalus atau Irlandia sebagai lokasi. Kepulauan Canary juga dinyatakan sebagai lokasi yang mungkin, sebelah barat selat Gibraltar tetapi dekat dengan Laut Tengah. Berbagai kepulauan di Atlantik juga dinyatakan sebagai lokasi yang mungkin, terutama Kepulauan Azores. Pulau Spartel yang telah tenggelam di selat Gibraltar juga telah diusulkan.
Hingga pada akhir th 2005, Prof. Arysio Santos yang menerbitkan buku yang menggemparkan : “Atlantis the Lost Continents Finally Found”.
Didalam buku tersebut, secara tegas dinyatakannya bahwa lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11.600 tahun yang lalu itu adalah di Indonesia. Beliau menunjukkan perbandingan yang menunjukkan Indonesia adalah lokasi Atlantis yang hilang dibandingkan lokasi-lokasi perkiraan sebelumnya.
Dalam buku ini beliau membandingkan berdasarkan : Sistem irigasi, Keberadaan mammoth/gajah, Ukuran benua, Iklim Tropis, Keberadaan Kelapa dan Nanas, Konstruksi Megalitikum, Kekayaan tambang dan lain-lain (http://atlan.org/articles/checklist)
Ilmu yang digunakan Santos dalam menelusur lokasi Atlantis ini adalah ilmu Geologi, Astronomi, Paleontologi, Archeologi, Linguistik, Ethnologi, dan Comparative Mythology.
Plato bercerita bahwa Atlantis adalah sebuah negara makmur dengan emas, batuan mulia, dan ‘mother of all civilazation’ dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga.
Warga Atlantis yang semula merupakan orang-orang terhormat dan kaya, kemudian berubah menjadi ambisius. Para dewa kemudian menghukum mereka dengan mendatangkan banjir, letusan gunung berapi, dan gempa bumi yang sedemikian dahsyatnya sehingga menenggelamkan seluruh benua itu. Kisah-kisah sejenis atau mirip kisah Atlantis ini yang berakhir dengan bencana banjir dan gempa bumi, ternyata juga ditemui dalam kisah-kisah sakral tradisional di berbagai bagian dunia, yang diceritakan dalam bahasa setempat.
Menurut Santos, ukuran waktu yang diberikan Plato 11.600 tahun SM, secara tepat bersamaan dengan berakhirnya Zaman Es Pleistocene, yang juga menimbulkan bencana banjir dan gempa yang sangat hebat. Bencana ini menyebabkan punahnya 70% dari species mamalia yang hidup saat itu, termasuk kemungkinan juga dua species manusia : Neandertal dan Cro-Magnon.
Sebelum terjadinya bencana banjir itu, pulau Sumatera, pulau Jawa, Kalimantan dan Nusa Tenggara masih menyatu dengan semenanjung Malaysia dan benua Asia .
Sulawesi, Maluku dan Irian masih menyatu dengan benua Australia dan terpisah dengan Sumatera dan lain-lain itu. Kedua kelompok pulau ini dipisahkan oleh sebuah selat yang mengikuti garis ‘Wallace’.
Posisi Indonesia terletak pada 3 lempeng tektonis yang saling menekan, yang menimbulkan sederetan gunung berapi mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan terus ke Utara sampai ke Filipina yang merupakan bagian dari ‘Ring of Fire’. Hingga terjadinya letusan gunung berapi secara berurutan, yang menyebabkan melelehnya lapisan es dan menimbulkan gempa dan tsunami yang menenggelamkan dataran rendah.
Benarkah hypothesis itu?? Dengan kecanggihan teknologi saat ini, yang memungkinkan pencarian di kedalaman laut, kebenaran seluruh hypothesis yang pernah ada tentang Atlantis mungkin akan segera terungkap..
Langganan:
Postingan (Atom)
